Yang Kita Panuti Terkait Covid 19 Siapa Ya?

Sedikit Catatan dan Fikiran Saya Pribadi Terkait Larangan berjamaah di Masjid akibat Covid 19 di Banyuasin Sumatera Selatan

Sedikit Catatan dan Fikiran Saya Pribadi Terkait Larangan berjamaah di Masjid akibat Covid 19 di Banyuasin Sumatera Selatan.

YANG KITA PANUTI TERKAIT COVID 19 SIAPA YA?

Arab Saudi, Mesir, Sudan, Maroko dan Negara Mayoritas Muslim lainnya sudah melarang Shalat Jamaah, Tarawih dan Jumat, demi kemaslahatan Umat semua, sekali lagi demi kemaslahatan Umat Islam dan Manusia.

Saya yakin, mereka bukan Ulama “Kacang Goreng” atau “Ulama Fulus” yang memfatwakan sesuatu tanpa dasar Al Quran Sunnah atau berdasarkan hawa nafsu.

Nah MUI kita Indonesia sebenarnya juga seperti Ulama di Timur Tengah itu. Hanya mereka memberikan Opsi, untuk wilayah tertentu tergantung MUI dan pemerintah Pusat. Ada daerah Hijau dan Merah. Tergantung pemerintah dan MUI masing-masing daerah memutuskan sesuai dengan ijtihadnya.

Untuk Banyuasin, seingat saya sudah merekomendasikan untuk sementara waktu shalat jamaah, tarawih dan jumat ditiadakan hingga pemberitahuan selanjutnya.

MUI Banyuasin memutuskan tersebut Bersama Ormas Islam lainnya. Saya rasa kita tak perlu “Su’udzon” dengan keputusan mereka ini karena keputusan ini dihasilkan bukan oleh Pemerintah saja tapi juga MUI dan Ormas Islam Banyuasin.

Dalam masalah Covid 19 ini Saya sepaham dengan Ust Abdul Somad. Bahwa masalah Covid ini bukan masalah fiqh semata, tapi juga masalah Sosial. Pemerintah harus tegas, tapi juga memberi solusi.

Banyak umat yang mau ikut keputusan (tidak berjamaah di masjid) tetapi melihat mall dan tempat keramaian masih buka, banyak yang marah. Kenapa jamaah masjid dilarang sedangkan pasar, mall dan tempat keramaian masih dibiarkan. Akhirnya, Jamaah Kembali lagi ke Masjid. Dan persoalan sosial lainnya.

Ust Abdul Somad sendiri hingga saat ini seperti yang disampaikan beliau di TV1 mengikuti keputusan Ulama Dunia dan Indonesia. Masjid di wilayahnya sekarang sementara waktu tak ada Jamaah lima waktu, tarawih dan Jumatan.

Dalam catatan saya, sekarang ini banyak perdebatan di bawah terkait harus dan tidaknya shalat jamaah dan jumat serta tarawih ditutup. Dengan alasan kita ini takut virus apa takut Allah?. Jika pertanyaan begitu, ya jelas Jawabannya HARUS TAKUT ALLAH yang membuat virus.

Cuma jika boleh saya compare, sebuah jalan diketahui ada gerombolan Singa dan harimau lapar. Kita mau lewat jalan tersebut karena itu jalan terdekat menuju tempat yang dituju. Apa sikap kita?

Ah Cuma Singa dan Harimau, lanjut saja lewat jalan ini. tak usah takut, kita harus hanya takut kepada Allah yang menciptakan mereka. Atau cari jalan lain yang lebih selamat sehingga sampai tujuan.?

Kembali ke pertanyaan di atas.

YANG KITA PANUTI TERKAIT COVID 19 SIAPA YA?

Bagi saya, masalah Agama ya kepada Ulama.

Masalah Kesehatan ya kepada Dokter.

Jika kumpulan Dokter dan Kumpulan Ulama sudah sepakat satu hal, trus…. haruskah saya tak menggubris?

Nah….. Trus gimana nih yang di tempatnya masih ada Jama’ah lima waktu, tarawih dan Jum’atan?

Gak usah pusing.

Pertama, tanyakan Nurani masing-masing. Gimana perasaan hatinya jika tidak jamaah di Masjid. Kosong, hampa ataukah malah senang?

Kedua, tanyakan “Ulama Masjid” masing-masing.

Wallahu A’lam bishawab


Tirtaharja, Jum’at 8 Ramadhan 1441H/ 1 Mei 2020M

Tinggalkan pesan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.